BEBERAPA TEORI YANG MENGATAKAN KEPRIBADIAN SEHAT
Ø Gordon Allport
Kepribadian
yang matang Oleh Gordon Allport:
Saat
ini teori-teori Allport (tentang kepribadian yang sehat) tetap relevan. Berikut
adalah tujuh kriteria dari Allport tentang sifat-sifat khusus kepribadian yang
sehat:
1. Perluasan
Perasaan Diri
ketika seseorang menjadi matang, ia
mengembangkan perhatian-perhatian di luar diri. Tidak cukup sekadar
berinteraksi dengan sesuatu atau seseorang di luar diri. Lebih dari itu, ia
harus memiliki partisipasi yang langsung dan penuh, yang oleh Allport disebut
"partisipasi otentik". Dalam pandangan Allport, aktivitas yang
dilakukan harus cocok dan penting, atau sungguh berarti bagi orang tersebut.
Jika menurut kita pekerjaan itu penting, mengerjakan pekerjaan itu
sebaik-baiknya akan membuat kita merasa enak, dan berarti kita menjadi
partisipan otentik dalam pekerjaan itu. Hal ini akan memberikan kepuasan bagi
diri kita. Orang yang semakin terlibat sepenuhnya dengan berbagai aktivitas,
orang, atau ide, ia lebih sehat secara psikologis. Hal ini berlaku bukan hanya
untuk pekerjaan, melainkan juga hubungan dengan keluarga dan teman, kegemaran,
dan keanggotaan dalam politik, agama, dan sebagainya.
2. Relasi
Sosial yang Hangat
Allport
membedakan dua macam kehangatan dalam hubungan dengan orang lain, yaitu
kapasitas untuk mengembangkan keintiman dan untuk merasa terharu. Orang yang
sehat secara psikologis mampu mengembangkan relasi intim dengan orangtua, anak,
pasangan, dan sahabat. Ini merupakan hasil dari perasaan perluasan diri dan
perasaan identitas diri yang berkembang dengan baik. Adaperbedaan hubungan
cinta antara orang yang neurotis (tidak matang) dan yang berkepribadian sehat
(matang). Orang-orang neurotis harus menerima cinta lebih banyak daripada yang
mampu diberikannya kepada orang lain. Bila mereka memberikan cinta, itu
diberikan dengan syarat-syarat. Padahal, cinta dari orang yang sehat adalah
tanpa syarat, tidak melumpuhkan atau mengikat.
Jenis
kehangatan yang lain, yaitu perasaan terharu, merupakan hasil pemahaman
terhadap kondisi dasar manusia dan perasaan kekeluargaan dengan semua bangsa.
Orang sehat memiliki kapasitas untuk memahami kesakitan, penderitaan,
ketakutan, dan kegagalan yang merupakan ciri kehidupan manusia.
3. Keamanan
Emosional
Kualitas
utama manusia sehat adalah penerimaan diri. Mereka menerima semua segi
keberadaan mereka, termasuk kelemahan-kelemahan, dengan tidak menyerah secara
pasif terhadap kelemahan tersebut. Selain itu, kepribadian yang sehat tidak
tertawan oleh emosi-emosi mereka, dan tidak berusaha bersembunyi dari
emosi-emosi itu. Mereka dapat mengendalikan emosi, sehingga tidak mengganggu
hubungan antarpribadi. Pengendaliannya tidak dengan cara ditekan, tetapi diarahkan
ke dalam saluran yang lebih konstruktif. Kualitas lain dari kepribadian sehat
adalah "sabar terhadap kekecewaan". Hal ini menunjukkan bagaimana
seseorang bereaksi terhadap tekanan dan hambatan atas berbagai keinginan atau
kehendak. Mereka mampu memikirkan cara yang berbeda untuk mencapai tujuan yang
sama. Orang-orang yang sehat tidak bebas dari perasaan tak aman dan ketakutan.
Namun, mereka tidak terlalu merasa terancam dan dapat menanggulangi perasaan
tersebut secara lebih baik daripada kaum neurotis.
4. Persepsi
Realistis
Orang-orang
sehat memandang dunia secara objektif. Sebaliknya, orang-orang neurotis
kerapkali memahami realitas disesuaikan dengan keinginan, kebutuhan, dan
ketakutan mereka sendiri. Orang sehat tidak meyakini bahwa orang lain atau
situasi yang dihadapi itu jahat atau baik menurut prasangka pribadi. Mereka
memahami realitas sebagaimana adanya.
5. Keterampilan
dan Tugas
Allport
menekankan pentingnya pekerjaan dan perlunya menenggelamkan diri di dalam
pekerjaan tersebut. Kita perlu memiliki keterampilan yang relevan dengan
pekerjaan kita, dan lebih dari itu harus menggunakan keterampilan itu secara
ikhlas dan penuh antusiasme. Komitmen pada orang sehat atau matang begitu kuat,
sehingga sanggup menenggelamkan semua pertahanan ego. Dedikasi terhadap
pekerjaan berhubungan dengan rasa tanggung jawab dan kelangsungan hidup yang
positif. Pekerjaan dan tanggung jawab memberikan arti dan perasaan kontinuitas
untuk hidup. Tidak mungkin mencapai kematangan dan kesehatan psikologis tanpa
melakukan pekerjaan penting dan melakukannya dengan dedikasi, komitmen, dan
keterampilan.
6. Pemahaman
Diri
Memahami
diri sendiri merupakan suatu tugas yang sulit. Ini memerlukan usaha memahami
diri sendiri sepanjang kehidupan secara objektif. Untuk mencapai pemahaman diri
yang memadai dituntut pemahaman tentang dirinya menurut keadaan sesungguhnya.
Jika gambaran diri yang dipahami semakin dekat dengan keadaan sesungguhnya,
individu tersebut semakin matang. Demikian juga apa yang dipikirkan seseorang
tentang dirinya, bila semakin dekat (sama) dengan yang dipikirkan orang-orang
lain tentang dirinya, berarti ia semakin matang. Orang yang sehat terbuka pada
pendapat orang lain dalam merumuskan gambaran diri yang objektif. Orang yang
memiliki objektivitas teradap diri tak mungkin memproyeksikan kualitas
pribadinya kepada orang lain (seolah orang lain negatif). Ia dapat menilai
orang lain dengan seksama, dan biasanya ia diterima dengan baik oleh orang
lain. Ia juga mampu menertawakan diri sendiri melalui humor yang sehat.
7. Filsafat
Hidup
Orang
yang sehat melihat ke depan, didorong oleh tujuan dan rencana jangka panjang.
Ia memiliki perasaan akan tujuan, perasaan akan tugas untuk bekerja sampai
tuntas sebagai batu sendi kehidupannya. Allport menyebut dorongan-dorongan
tersebut sebagai keterarahan (directness).
Keterarahan itu membimbing semua segi kehidupan seseorang menuju suatu atau
serangkaian tujuan, serta memberikan alasan untuk hidup. Kita membutuhkan
tarikan yang tetap dari tujuan yang bermakna. Tanpa itu mungkin kita mengalami
masalah kepribadian.
Ø Carl Rogers
Teori Kepribadian Sehat
Pendapat Rogers : Memahami dan menjelaskan
teori kepribadian sehat menurut rogers yang meliputi
1. Perkembangan
kepribadian “self”
2. Peranan positive regard dalam
pembentukan kepribadian individu
3. Ciri-ciri
orang yang berfungsi sepenuhya
A. Perkembangan
kepribadian “self”
Inti dari teori- teori Rogers yaitu individu
memiliki kemampuan dalam diri sendiri untuk mengerti diri, menentukan hidup,
dan menangani masalah- masalah psikisnya asalkan konselor menciptakan kondisi
yang dapat mempermudah perkembangan individu untuk aktualisasi diri. Rogers
menerima istilah self dari pengalaman- pengalaman realita masing- masing
individu. Dalam setiap bertambahnya umur ,anak bisa berubah sifat dan
perilaku. Dan seorang ibu bisa memperhatikan perkembangan anak, dari waktu ke
waktu dan seorang ibulah yang memelihara dan mendidiknya dan tidak di serahkan
kepada baby sister
B. Peranan positive regard dalam
pembentukan kepribadian individu
Setiap manusia memiliki kebutuhan basic akan
kehangatan, penghargaan, penerimaan, pengagungan, cinta, kasih, dan sayang dari
orang lain. Kebutuhan ini disebut need for positive regard, yang
terbagi lagi menjadi 2 yaituconditional positive regard (bersyarat)
dan unconditional positive regard (tak bersyarat). Pribadi
yang berfungsi sepeuhnya adalah pribadi yang mengalami pengharagaan positif tak
bersyarat. Mengapa? Karena ini penting, dihargai, diterima, disayangi, dicintai
sebagai seseorang yang berarti tentu akan menerima dengan penuh kepercayaan.
C. Ciri-ciri orang
yang berfungsi sepenuhnya
Menurut pendapat Rogers
Pertama, orang yang sehat secara psikologis
akan lebih mudah beradaptasi
Karena orang psikologis bisa melihat dan
menilai sifat-sifat seeorang maka dari itu dia mudah beradaptasi. Kedua,
manusia –manusia masa depan akan lebih terbuka atas pengalaman-pengalaman
mereka, manusia masa depan akan lebih mendengar dirinya dan
memperhatikan perasaan bahagia, marah,kecewa,ketakutan, dan kelembutan mereka. Ketiga,
dari manusia masa depan adalah kecenderungan untuk hidup sepenuhnya
pada masa sekarang. Merujuk kecenderungan untuk hidup pada masa
sekarang sebagaikehidupan eksistensial. Manusia masa depan tidak mempunyai
kebutuhan untuk menipu diri mereka sendiri ataupun alasan untuk mencoba membuat
orang lain kagum. Keempat, manusia masa depan akan tetap percaya terhadap
kemampuan diri mereka untuk merasakan hubungan yang hamonis dengan
orang lain. Kelima, manusia masa depan akan lebih terintegrasi, lebih utuh,
anpa batasan-batasan buatan antara proses kognitif yang dilakukan secara sadar
ataupun yang tidak. Keenam, manusia masa depan mempunyai kepercayaan
pada kemanusiaan. Mereka tidak akan menyakiti orang lain hanya untuk
kepentingan pribadi; peduli pada orang lain dan akan siap membantu apabila
diperlukan; akan mengalami kemarahan, tetapi dapat dipercaya bahwa mereka tidak
akan menyerang secara tidak asuk akal melawan orang lain; serta akan merasa
agresi, tetapi akan mengalihkannya kea rah yang sepatutnya .
Terakhir, karena manusia masa depan terbuka
dengan semua pengalaman, mereka akanlebih menikmati kekayaan hidup dri
pada orang lain. Mereka tidak mendistori stimulus internal ataupun menahan
emosi mereka .
Rogers meberikan lima sifat orang yang
berfungsi sepenuhnya :
a. Keterbukaan
pada pengalaman
b. Kehidupan
eksistensial
c. Kepercayaan
terhadap organism sendiri
d. Perasaan
bebas
e. Kreatifitas
Ø Abraham
Maslow
Teori Kepribadian Abraham Maslow:
1) Individu sebagai Kesatuan Terpadu
Pertama-tama Maslow menekankan bahwa individu
merupakan kesatuan yang terpadu dan terorganisasi, sehingga motivasi seseorang
dalam melakukan sesuatu adalah motivsi individu seutuhnya bukan bagian darinya.
Menurut maslow manusia harus diselidiki sebagai sesuatu yang totalitas, sebagai
suatu system, setiap bagian tidak dapat dipisahkan dengan bagian yang lain. Pernyataan
ini hampir menjadi aksioma yang diterima oleh semua orang, yang kemudian sering
dilupakan dan diabaikan tatkala seseorang melakukan penelitian. Penting sekali
untuk selalu disadarkan kembali hal ini sebelum seseorang melakukan eksperimen
atau menyusun suatu teori motivasi yang sehat.
2) Hirarki Kebutuhan
Maslow mengembangkan teori tentang bagaimana
semua motivasi saling berkaitan. Ia menyebut teorinya sebagai “hirarki
kebutuhan”. Kebutuhan ini mempunyai tingkat yang berbeda-beda. Ketika satu
tingkat kebutuhan terpenuhi atau mendominasi, orang tidak lagi mendapat
motivasi dari kebutuhan tersebut.. Maslow membuat tingkatan kebutuhan manusia
menjadi lima karakteristik. sebagai berikut:
a. Kebutuhan fisiologis
Kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan manusia
yang paling mendasar untuk mempertahankan hidupnya secara fisik, yaitu
kebutuhan akan makanan, minuman, tempat tinggal, seks, tidur, istirahat, dan
udara. Seseorang yang mengalami kekurangan makanan, harga diri, dan cinta,
pertama-tama akan mencari makanan terlebih dahulu. Bagi orang yang berada dalam
keadaan lapar berat dan membahayakan, tak ada minat lain kecuali makanan. Tidak
diragukan lagi bahwa kebutuhan fisiologis ini adalah kebutuhan yang paling kuat
dan mendesak. Ini berarti bahwa pada diri manusia yang sangat merasa kekurangan
segala-galanya dalam kehidupannya, besar sekali kemungkinan bahwa motivasi yang
paling besar ialah kebutuhan fisiologis dan bukan yang lain-lainnya. Dengan
kata lain, seorang individu yang melarat kehidupannya, mungkin sekali akan
selalu termotivasi oleh kebutuhan-kebutuhan ini
b. Kebutuhan akan rasa aman
Setelah kebutuhan dasariah terpuaskan,
muncullah apa yang digambarkan Maslow sebagai kebutuhan akan rasa aman atau
keselamatan. Kebutuhan ini menampilkan diri dalam kategori kebutuhan akan
kemantapan, perlindungan, kebebasan dari rasa takut, cemas dan kekalutan,
kebutuhan akan struktur, ketertiban, hukum, batas-batas, dan sebagainya.
Kebutuhan ini dapat kita amati pada seorang anak. Biasanya seorang anak
membutuhkan suatu dunia atau lingkungan yang dapat diramalkan. Seorang anak
menyukai konsistensi dan kerutinan sampai batas-batas tertentu. Jika hal-hal
itu tidak ditemukan maka ia akan menjadi cemas dan merasa tidak aman. Orang yang
merasa tidak aman memiliki kebutuhan akan keteraturan dan stabilitas serta akan
berusaha keras menghindari hal-hal yang bersifat asing dan tidak diharapkan.
Untuk pribadi yang sehat, kebutuhan rasa aman tidak berlebih-lebihan atau
selalu mendesak. Kebanyakan diantara kita ini tidak menyerah atau sama sekali
tunduk kepada kebutuhan-kebutuhan rasa aman, tetapi dalam pada itu juga kita
merasa tidak puas kalau jaminan dan stabilitas sama sekali tidak ada.
c. Kebutuhan sosial
Setelah terpuaskan kebutuhan akan rasa aman,
maka kebutuhan sosial yang mencakup kebutuhan akan rasa memiliki-dimiliki,
saling percaya, cinta, dan kasih sayang akan menjadi motivator penting bagi
perilaku. Pada tingkat kebutuhan ini,belum pernah sebelumnya, orang akan sangat
merasakan tiadanya seorang sahabat, kekasih, isteri, suami, atau anak-anak. Ia
haus akan relasi yang penuh arti dan penuh kasih dengan orang lain pada
umumnya. Ia membutuhkan terutama tempat (peranan) di tengah kelompok atau
lingkungannya, dan akan berusaha keras untuk mencapai dan mempertahankannya.
Orang di posisi kebutuhan ini bahkan mungkin telah lupa bahwa tatkala masih
memuaskan kebutuhan akan makanan, ia pernah meremehkan cinta sebagai hal yang
tidak nyata, tidak perlu, dan tidak penting. Sekarang ia akan sangat merasakan
perihnya rasa kesepian itu, pengucilan sosial, penolakan, tiadanya keramahan,
dan keadaan yang tak menentu. Maslow percaya bahwa makin lama makin sulit
memuaskan kebutuhan akan memiliki dan cinta kerena mobilitas kita.begitu sering
kita berganti rumah, tetangga, kota, bahkan pathner, sehingga kita tidak dapat
berakar. Kita tidak cukup lama berada disuatu tempat untuk mengembangkan
perasaan yang memiliki. Banyak orang dewasa merasakan kesepian dan terisolasi,
meskipum mereka hidup ditengah-tengah orang banyak.
d. Kebutuhan akan penghargaan
Maslow membedakan kebutuhan ini menjadi
kebutuhan akan penghargaan secara internal dan eksternal. Yang pertama
(internal) mencakup kebutuhan akan harga diri, kepercayaan diri, kompetensi,
penguasaan, kecukupan, prestasi, ketidaktergantungan, dan kebebasan
(kemerdekaan). Yang kedua (eksternal) menyangkut penghargaan dari orang lain,
prestise, pengakuan, penerimaan, ketenaran, martabat, perhatian, kedudukan,
apresiasi atau nama baik. Orang yang memiliki cukup harga diri akan lebih
percaya diri. Dengan demikian ia akan lebih berpotensi dan produktif.
Sebaliknya harga diri yang kurang akan menyebabkan rasa rendah diri, rasa tidak
berdaya, bahkan rasa putus asa serta perilaku yang neurotik. Kebebasan atau
kemerdekaan pada tingkat kebutuhan ini adalah kebutuhan akan rasa
ketidakterikatan oleh hal-hal yang menghambat perwujudan diri. Kebutuhan ini
tidak bisa ditukar dengan sebungkus nasi goreng atau sejumlah uang karena
kebutuhan akan hal-hal itu telah terpuaskan.
e. Kebutuhan akan aktualisasi diri
Menurut Maslow, setiap orang harus berkembang
sepenuh kemampuannya. Kebutuhan manusia untuk tumbuh berkembang, dan
menggunakan kemampuannya disebut oleh Maslow sebagai aktualisasi diri. Maslow
juga menyebut aktualisasi diri sebagai hasrat untuk makin menjadi diri sepenuh
kemampuan sendiri, menjadi apa menurut kemampuan yang dimiliki. Kebutuhan akan
aktualisasi diri ini biasanya muncul setelah kebutuhan akan cinta dan akan
penghargaan terpuaskan secara memadai. Kebutuhan akan aktualisasi diri ini
merupakan aspek terpenting dalam teori motivasi Maslow. Dewasa ini bahkan
sejumlah pemikir menjadikan kebutuhan ini sebagai titik tolak prioritas untuk
membina manusia berkepribadian unggul. Belakangan ini muncul gagasan tentang
perlunya jembatan antara kemampuan majanerial secara ekonomis dengan kedalaman
spiritual. Manajer yang diharapkan adalah pemimpin yang handal tanpa melupakan
sisi kerohanian. Dalam konteks ini, piramida kebutuhan Maslow yang berangkat
dari titik tolak kebutuhan fisiologis hingga aktualisasi diri diputarbalikkan.
Dengan demikian perilaku organisme yang diharapkan bukanlah perilaku yang rakus
dan terus-menerus mengejar pemuasan kebutuhan, melainkan perilaku yang lebih
suka memahami daripada dipahami, memberi daripada menerima.
Konsep
yang mendasar bagi teori maslow adalah manusia di motivasikan oleh sejumlah
kebutuhan dasar yang bersifat sama untuk seluruh spesies, tidak berubah dan
berasal dari sumber genetis atau naluriah. Kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak
semata-mata bersifat fisiologis tetapi juga psikologis. Kebutuhan-kebutuhan itu
merupakan inti dari kodrat manusia, hanya saja manusia lemah dan mudah
diselewengkan dan dikuasai oleh proses belajar, kebiasaan atau tradisi yang
keliru. Kebutuhan-kebutuhan itu adalah aspek instrinsik kodrat manusia yang
tidak akan mati karena kebudayaan. Suatu kebutuhan dapat dikatakan sebagai
kebutuhan dasar jika memenuhi syarat sebagai berikut :
1. ketidak-hadirannya menimbulkan
penyakit
2. kehadirannya mencegah timbulnya
penyakit
3. pemulihannya menyembuhkan penyakit
4. dalam
situasi tertentu yang sangat komplek dan dimana orang bebas memilih, orang yang
sedang berkekurangan ternyata mengutamakan kebutuhan itu dibandingkan
jenis-jenis kepuasan lainnya.
5. Kebutuhan itu tidak aktif, lemah atau
secara fungsional tidak terdapat pada orang yang sehat.
Suatu catatan yang diberikan oleh Maslow
bahwa meskipun kebutuhan manusia bertingkat-tingkat, namun jangan terlalu kaku
menanggapinya, mungkin saja orang yang belum terpenuhi kebutuhan makanannya
juga menginginkan rasa aman, atau orang yang belum sempurna rasa amannya juga
menginginkan kasih sayang atau orang pada tingkat rendah mungkin akan
terpuaskan hanya dengan makanan saja dan seterusnya.
Kepribadian
sehat menurut Maslow:
Maslow berpendapat bahwa seseorang akan
memiliki kepribadian yang sehat, apabila dia telah mampu untuk
mengaktualisasikan dirinya secara penuh (self actualizing person). Dia
mengemukakan teori motivasi bagi self actualizinga-needs person, dengan nama
metamotivation, meta-needs B-motivation, atau being values (kebutuhan untuk
berkembang). Sementara motivasi bagi orang yang tidak mampu mengaktualisasikan
dirinya dinamai D-motivation atau deficiency. Di bawah ini ciri-ciri
dari metaneeds dan metapologi
·
Metanees :
Sikap percaya, bijak dan baik, indah (estetis), kesatuan (menyeluruh), energik
dan optimis, pasti, lengkap, adil dan altruis, berani, sederhana (simple)
·
Metapologis
: Tidak percaya, sinis dan skeptic, benci dan memuakkan, vulgar dan mati rasa, disintegrasi,
kehilangan semangat hidup, pasif dan pesimis, kacau dan tidak dapat diprediksi,
tidak lengkap dan tidak tuntas, suka marah-marah, tidak adil dan egois, rasa
tidak aman dan memerlukan bantuan, sangat komplek dan membingungkan
Mengenai self-actualizing
person,atau orang yang sehat mentalnya, Maslow mengemukakanciri-cirinya
sebagai berikut:
1) Mempersepsi
kehidupan atau dunianya sebagaimana apa adanya, dan merasa nyaman dalam
menjalaninya
2) Menerima dirinya sendiri, orang
laindan lingkungannya.
3) Bersikap spontan, sederhana, alami,
bersikap jujr, tidak dibuat-buat dan terbuka.
4) Mempunyai
komitmen atau dedikasi untuk memecahkan masalah di luar dirinya (yang dialami
orang lain).
5) Bersikap mandiri atau independen.
6) Memiliki apresiasi yang segar
terhadap lingkungan di sekitarnya
7) Mencapai
puncak pengalaman, yaitu suatu keadaan dimana seseorang mengalami kegembiraan
yang luar biasa. Pengalaman ini cenderung lebih bersifat mistik atau keagamaan
8) Memiliki minat social, simpati,
empati dan altruis
9) Sangat
senang menjalin hubungan interpersonal (persahabatan atau persaudaraan) dengan
orang lain
10) Bersikap demokratis (toleran, tidak
rasialis, dan terbuka)
11) Kreatif (fleksibel, spontan, terbuka
dan tidak takut salah).
Pandangan maslow tentang hakikat manusia
yaitu manusia bersifat optimistik, bebas berkehendak, sadar dalam memilih,
unik, dapat mengatasi pengalaman masa kecil, dan baik. Menurut dia kepribadian
itu dipengaruhi oleh hereditas dan lingkungan. Dalam kaitannya dengan peran
lingkungan, khususnya di sekolah dalam mengembangkan self-actualization, Maslow
mengemukakan beberapa upaya yang sebaiknya membantu siswa menemukan
identitasnya (jati dirinya) sendiri. Diantaranya:
1) Membantu siswa untuk mengeksplorasi
pekerjaan
2) Membantu siswa untuk memehami
keterbatasan (nasib) dirinya
3) Membantu siswa untuk memperoleh
pemahaman tentang nilai nilai
4) Membantu siswa agar memahami bahwa
hidup ini berharga
5) Mendorng siswa agar mencapai
pengalaman puncak dalam kehidupannya
6) Memfasilitasi siswa agar dapat
memuaskan kebutuhan dasarnya (rasa aman, rasa berharga, dan rasa diakui).
Ø Erich Fromm
Erich Fromm yang pernah menuliskan “kita adalah
orang-orang yang harus menjadi sesuai dengan keperluan-keperluan masyarakat
dimana kita hidup”. Karena kekuatan-kekuatan sosial dan kultur begitu penting,
fromm percaya bahwa perlu menganalisis struktur masyarakat. Jadi kodrat
masyarakat adalah kunci untuk memahami dan mengubah kepribadian manusia. Apakah
suatu kepribadian itu sehat atau tidak sehat tergantung pada kebudayaan yang
membantu atau mengambat pertumbuhan dan perkembangan manusia yang positif.
Fromm memberikan suatu gambaran yang jelas tentang
kepribadian yang sehat. Orang yang demikian mencintai sepenuhnya, kreatif,
memiliki kemampuan-kemampuan pikiran yang sangat berkembang, mengamati dunia
dan diri secara objektif, memiliki suatu perasaan identitas yang kuat,
berhubungan dengan dan berakar didunia, subjek atau pelaku dari diri dan nasib,
dan bebas dari ikatan-ikatan sumbang. Akan tetapi ada salah satu pengertian dimana kepribadian
sehat dan produktif benar-benar menghasilkan sesuatu dan merupakan hasil yang
sangat penting dari individu, yakni diri. Orang-orang sehat menciptakan diri
mereka dengan melahirkan semua potensi mereka, dengan menjadi semua menurut
kesanggupan mereka dan memenuhi semua kapasitas mereka.SUMBER : Suryabrata, S.psikologi kepribadian. Jakarta: kanisius, 1982.
Schultz, D.psikologi pertumbuhan : model – model kepribadian sehat. Yogyakarta: kanisius, 1991.